Mengelola Keuangan Keluarga


KITA semua sadar bahwa uang adalah sesuatu yang sensitif, apalagi menyangkut kehidupan rumah tangga. Persoalan Rupiah ini biasanya berawal dari perbedaan kebiasaan mengelola dilanjutkan dengan saling merasa benar dan berakhir dengan pertengkaran.

Agar hal ini tidak terjadi, mari kita bahas satu persatu tipsnya membangun fondasi RUMAH.

R= Rekening Kebutuhan Rumah Tangga

Rekening bersama atau pisah? Ini kerap dibahas pasangan baru, terutama jika masing-masing punya penghasilan sendiri. Apapun pilihannya, yang penting adalah adanya keterbukaan dan perencanaan bersama. Hal ini berkaitan dengan pengeluaran yang semakin tinggi, seperti untuk biaya anak sekolah, dan lain-lain.

Berdasarkan survei, banyak pasangan yang merasa menggabungkan rekening atau joint account merupakan solusi yang lebih mudah. Jika pemasukan dijadikan satu, kita akan lebih mudah memantau pemasukan dan pengeluaran.

U= Utang
Sumber prahara rumah tangga selanjutnya adalah utang. Masing-masing individu tentu memiliki pendapat yang berbeda tentang besaran utang. Alangkah baiknya sebelum menikah diskusikan masalah ini dahulu, sebab utang pasangan akan jadi utang kita juga nantinya.

Pertimbangkan perjanjian pisah harta. Jangan beranggapan buruk tentang perjanjian ini yang berguna untuk melindungi aset kita dari utang pasangan. Tindakan berjaga-jaga diperlukan apalagi jika pasangan atau kita berutang pada rentenir yang menggunakan kekerasan untuk menagih.

M= Monitor
Menjalankan rumah tangga tak ubahnya dengan mengatur perusahaan. Kita perlu memonitor, membuat standar keberhasilan dan pencapaian agar terhindar dari kecurigaan. Jangan sampai kita menuduh pasangan boros gara-gara uang bulanan kerap habis.

Biasakan duduk bersama memutuskan alokasi uang. Utamakan untuk menyiapkan kebutuhan primer seperti sewa rumah, cicilan rumah, biaya makan, listrik, telepon, air, kesehatan, sekolah, dan transportasi. Lanjutkan dengan kebutuhan pribadi, pakaian, salon, rekreasi, pariwisata, dan pembelian barang mewah. Buatlah daftar HIS dan HERS dan negosiasikan jumlahnya.

A= Anggaran dana darurat
Milikilah dana darurat sejumlah 3-6 bulan dan letakkan pada deposito atau tabungan yang memiliki likuiditas tinggi alias bisa diambil sewaktu-waktu. Jangan diambil untuk pengeluaran pribadi karena dana inilah yang kelak akan menyelamatkan kita dari beragam bencana seperti PHK, sakit, atau lainnya sehingga keuangan rumah tangga tidak goncang.

H= Harus Investasi Teratur
Jika kebutuhan primer sudah tercukupi, utang dilunasi, dan dana darurat terpenuhi, mari pikirkan investasi. Sisihkan dari awal menerima pendapatan dan pilihlah instrumen investasi yang tepat. Reksa dana bisa menjadi salah satu pilihan karena bisa dimulai dari jumlah sangat terjangkau Rp.100 ribu. Biasakan memiliki satu rencana investasi untuk setiap tujuan keuangan misalnya pensiun, pendidikan anak, dan sebagainya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s