Stres Menurut Pandangan Dadang Hawari


Tokoh dan Intelektual Muslim Indonesia

Dadang_Hawari

 

 

 

 

 

 

 

Prof. Dr. Dadang Hawari

 

 

Peran dan Pemikiran

Sebagai seorang psikiater, spesialis ilmu jiwa, ia justru menawarkan nasihat dan terapi yang sarat dengan nilai agama. Namun tidak terkesan menggurui dan tetap memegang tinggi bobot ilmiah. Baginya, nilai religius merupakan komponen terpenting untuk mengatasi gangguan kejiwaan.

***

 

Stres

Menurut Pandangan Prof. Dr. H. Dadang Hawari ~ Psikiater.

 

Definisi:

Stres adalah respon tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya (stresor psikososial). Gejala stres didominasi oleh keluhan-keluhan somatik.

Cemas adalah respon psikologik terhadap setiap tuntutan beban atasnya (stresor psikososial). Gejala cemas didominasi oleh keluhan-keluhan kecemasan (ketakutan, kekhawatiran, dan sejenisnya).

Sedangkan depresi adalah respon psikologik (mood) terhadap setiap beban atasnya (stresor psikososial). Gejala depresi didominasi oleh keluhan-keluhan psikologik (kesedihan, kemurungan, hilangnya semangat hidup, dan sejenisnya).

Dalam pengalaman praktek, gejala stres, cemas, dan depresi seringkali tumpang tindih.

Stresor psikososial, terdiri dari : perkawinan, orang tua, antar pribadi, pekerjaan, lingkungan, keuangan, hukum, perkembangan, penyakit fisik, faktor keluarga, trauma

 

 

Resiko kepribadian:

a. Kepribadian Tipe “A” beresiko tinggi terkena stres

b. Kepribadian Tipe “B” beresiko rendah terkena stres

c. Kepribadian “Pencemas” beresiko tinggi terkena gangguan cemas

d. Kepribadian “Depresif” beresiko tinggi terkena gangguan depresi

Tipe Kepribadian “A” : ambisius, kurang sabar, terlalu waspada, bicara cepat, bekerja keras, kepemimpinan otoriter, One Man Show, waktu kaku/non fleksibel, pergaulan “hostile”, pengaruh kaku, obsesi pekerjaan, non under control.

Tipe Kepribadian “B” : ambisi, sabar, waspada wajar, bicara kalem/tenang, bekerja santai, kepemimpinan demokratis, Team Work, tidak tergesa-gesa, Mutual Benefit, Pengaruh Fleksibel, Non obsesi pekerjaan, under control.

 

 

Enam Tahapan stres :

1. Stres pada eksekutif

2. Reaksi tubuh terhadap stres

3. Stresor stres paska trauma

4. gejala klinis

5. stres paska trauma

6. Alat ukur derajat stres

 

 

Alat Ukur Kekebalan Terhadap Stres:

Stres Tahap I : semangat bekerja berlebihan (over acting), penglihatan “tajam”, perasaan mampu menyelesaikan masalah berlebihan (all out), dan merasa senang – tanpa disadari energi semakin menipis.

Stres Tahap II: letih bangun pagi, lelah sesudah makan siang, lekas capek sore hari, keluhan lambung dan perut, berdebar-debar, otot punggung dan tengkuk tegang, tidak bisa santai.

Stres Tahap III: gangguan pencernaan semakin meningkat, ketegangan otot semakin terasa, ketegangan dan ketidaktenangan emosional semakin meningkat, gangguan pola tidur, dan koordinasi tubuh terganggu (seperti mau pingsan).

Stres Tahap IV : bertahan sepanjang hari terasa sulit, aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan kini membosankan dan terasa sulit, tidak tanggap terhadap situasi, ketidakmampuan melaksanakan tugas rutin sehari-hari, gangguan pola tidur disertai mimpi-mimpi menegangkan, menolak ajakan, daya konsentrasi dan daya ingat menurun, dan kecemasan dan ketakutan tanpa sebab.

Stres Tahap V: kelelahan fisik dan mental semakin menjadi, ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana, gangguan sistem pencernaan semakin menjadi, ketakutan dan kecemasan semakin meningkat (mudah bingung dan panik).

Stres Tahap VI: debaran jantung semakin keras; nafas sesak megap-megap; sekujur badan terasa gemetar, dingin, dan keringat bercucuran ; ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan; dan pingsan/colaps.

Reaksi tubuh terhadap Stres : Rambut, mata, telinga, daya pikir, ekspresi wajah, mulut, kulit, sistem pernafasan, sistem kardiovaskuler, sistem pencernaan, sistem perkemihan, sistem tulang dan otot, sistem endokrin, libido.

 

Alat ukur stres:

1. Skala Holmes, di atas 300 dalam 1 tahun, stres

2. Skala miller&Smith : di atas 30-50 kurang kebal. Angka 50-80 tidak kebal terhadap stres

 

MANAJEMEN STRES (Upaya Meningkatkan kekebalan tubuh terhadap stres): 1. Terapi Psikofarmaka, 2. Terapi Somatik, 3. Psikoterapi, 4. Terapi Psikoreligius, 5. Terapi Psikososial, 6. Konseling

Meningkatkan kekebalan tubuh terhadap stres: Makanan, tidur, olahraga, hindari rokok, hindari minuman keras, berat badan, waktu, agama, rekreasi, sosial ekonomi (keuangan), kasih sayang, dan lain-lain.

Terapi I: 1. Psikofarmaka (obat anti cemas, anti depresi), 2. Terapi Somatik (fisik), 3. Psikoterapi (Psikoterapi suportif, psikoterapi re-edukatif, psikoterapi rekonstruktif, psikoterapi kognitif, psikoterapi psikodinamik, psikoterapi perilaku, psikoterapi keluarga).

Terapi II: 4. Psikoreligius terapi (doa dan dzikir), 5. Terapi psikososial, 6. Konseling individual dan keluarga.

 

 

 

*diedit seperlunya

Sumber : chirpstory.com , ensikperadaban.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s