satu rasa kelabu


EINH

“Kehilangan yang dalam dan sulit digambarkan. Mungkin karena bersama kepergian beliau, pergi juga orang yang selalu menyemangati saya, seorang sahabat yang memercayai saya lebih dari siapa pun.”
Asma Nadia – Penulis.

Ah, sahabat, banyak yang ingin aku ceritakan. banyak sekali. dunia ini rasanya tak pernah sama lagi tanpa dirimu. Mengingat itu berbeda dengan mengingat-ingat. Namun bagiku, sama saja. Ada satu rasa kelabu mengikuti alur dunia baruku. aku, seperti jadi manusia tanpa bayangan.

Saat itu di dalam bis kota. aku melihatmu melintas di jalanan. aku langsung memberhentikan bis dan mengejarmu. Tapi, kamu menghindariku dengan berlari menjauhiku. Aku berlari mengejarmu. Terus berlari. Akhirnya aku berhasil menangkap keberadaanmu. Namun, apa yang kau katakan kepadaku : “Aku Tak Pernah Ada.”. Kamu Bohong.

Setengah hati aku meyakini bunga malam. Setengah hati juga aku harus melupakan. Kini, setengah hati yang pertama yang menyeruak. Sanggupkah aku menerima semua ini? Aku yakin Tuhan pun tahu kemana arah kisah ini.

Aku ingin ke sana. Hatiku sudah ada di sana. Lama sudah. Tapi, jika keadaan tak memungkinkan untuk sekarang, aku tahu. Aku tak akan menyerah untuk percaya. Sampai saat ini aku masih percaya. Hingga nanti suatu hari aku akhirnya akan tunduk pada realitas.

“Mungkin raga Emak tidak bisa menyeberangi lautan yang luas untuk sampai ke tanah suci. Tapi Emak yakin, Allah tahu jiwa Emak sudah lama ada di sana,” kata Emak.

Raga ku ada di sini. Jauh.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s